aboelfe.com – Pernahkah Anda merasa bosan dengan hiruk-pikuk kota yang dipenuhi gedung pencakar langit dan kemacetan yang seolah tiada akhir? Bayangkan Anda berdiri di tengah padang rumput yang membentang hingga ke cakrawala, disapu angin tropis yang hangat, tanpa notifikasi ponsel yang terus mengikat Anda pada rutinitas. Itulah keajaiban yang ditawarkan Nusa Tenggara Timur, khususnya saat kita membicarakan Sumba: Menjelajahi savana purba dan Danau Kristal Weekuri.

Ketika Bali mulai terasa terlalu padat dan Lombok sudah terlalu familier, Sumba muncul sebagai primadona baru bagi para pelancong yang mencari keheningan sejati. Ini bukan sekadar destinasi liburan biasa; ini adalah perjalanan melintasi waktu. Dari perbukitan kapur yang eksotis hingga laguna berair asin yang menjebak lautan, pulau ini menawarkan lanskap yang membuat kita sadar betapa kecilnya manusia di hadapan alam. Mari kita kupas tuntas pesona daratan eksotis ini.

Lebih dari Sekadar “Bukit Teletubbies”

Setiap kali melihat foto Pulau Sumba di media sosial, mata kita pasti dimanjakan oleh gelombang perbukitan hijau atau kuning keemasan. Buktinya, Bukit Wairinding dan Bukit Tenau sering kali disederhanakan dengan sebutan “Bukit Teletubbies”. Tapi coba pikirkan, sabana di Sumba jauh lebih bermakna dari sekadar latar belakang foto estetis.

Secara geologis, Sumba adalah anomali. Berbeda dengan pulau-pulau tetangganya di Kepulauan Sunda Kecil yang terbentuk dari aktivitas vulkanik (gunung berapi), Sumba merupakan pecahan kerak benua yang terangkat dari dasar laut jutaan tahun lalu. Fakta inilah yang membuat tanahnya kaya akan batu gamping (karst) dan membentuk lanskap sabana yang mendominasi hampir 70% daratan pulau.

  • Insight Wisata: Jika Anda ingin melihat hamparan hijau bagai permadani zamrud, datanglah pada bulan Februari hingga April. Namun, jika Anda mencari nuansa sabana Afrika dengan rumput keemasan yang eksotis, bulan Agustus hingga Oktober adalah waktu yang sempurna.

Pesona Kuda Sandalwood di Hamparan Sabana

Berjalan melintasi savana purba Sumba belum lengkap rasanya tanpa perjumpaan dengan Kuda Sandalwood (Equus caballus). Kuda poni yang tangguh ini bukan sekadar hewan ternak peliharaan; mereka adalah simbol status sosial dan roh kebudayaan masyarakat Sumba. Dinamakan “Sandalwood” karena jejak sejarah masa lampau pulau ini sebagai pengekspor utama kayu cendana.

Data dari dinas peternakan setempat mencatat populasi kuda ini mencapai puluhan ribu ekor, dibiarkan hidup semi-liar di padang rumput. Melihat sekawanan kuda berlari bebas di bawah langit senja memberikan sensasi sinematik yang tak terlupakan.

  • Tips Praktis: Jangan pernah mencoba mendekati atau mengagetkan kuda yang sedang merumput tanpa pendampingan warga lokal. Meski terlihat tenang, mereka adalah hewan semi-liar yang bisa bereaksi defensif jika merasa terancam.

Danau Weekuri: Laguna Asin Tersembunyi di Kodi

Setelah puas menjelajah di bawah matahari padang rumput, saatnya mendinginkan diri. Tersembunyi di wilayah Kodi, Sumba Barat Daya, terdapat laguna menakjubkan yang memisahkan diri dari samudra: Danau Weekuri. Bayangkan sebuah kolam renang raksasa yang diukir langsung oleh alam dengan air berwarna toska yang luar biasa jernih.

Danau Weekuri sebenarnya adalah laguna pantai yang terbentuk dari celah karang besar yang terhubung langsung dengan Samudra Hindia. Uniknya, kadar garam di danau ini cukup tinggi. Hal ini membuat siapa saja yang berenang di sini bisa mengapung dengan mudah—mirip seperti sensasi di Laut Mati, Yordania—namun dengan pemandangan tebing karang hijau yang jauh lebih menyegarkan.

  • Tips Praktis: Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WITA. Cahaya matahari sore yang menembus dasar danau menciptakan pantulan kristal yang memukau, tanpa membuat kulit Anda melepuh terbakar terik matahari siang.

Mengapa Air Danau Weekuri Begitu Jernih?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa air di danau ini begitu jernih hingga kita bisa melihat pasir putih dan ikan-ikan kecil di dasarnya dari atas tebing? Rahasianya terletak pada sistem filtrasi alami yang menakjubkan.

Struktur geologi karst yang mengelilingi danau bertindak sebagai penyaring raksasa. Air laut pasang yang masuk melalui rongga bawah tanah tersaring secara alami oleh bebatuan kapur, meninggalkan sedimen kotor di luar. Ditambah lagi, percampuran dengan mata air tawar bawah tanah membuat sirkulasi air tetap terjaga dan segar.

  • Insight Lingkungan: Ekosistem karst ini sangat rapuh. Pastikan Anda membilas tubuh dari produk kimia atau menggunakan tabir surya reef-safe (ramah terumbu karang) sebelum melompat ke air. Mari kita jaga kejernihan ini agar tidak rusak oleh bahan kimia bawaan turis.

Interaksi Magis: Manusia, Alam, dan Marapu

Kelestarian alam Sumba, baik sabana maupun danaunya, tidak lepas dari peran kepercayaan asli masyarakat setempat: Marapu. Sedikit menyentil manusia modern yang kerap merusak alam demi sebuah konten viral, penganut Marapu justru sangat mensakralkan elemen alam. Gunung, mata air, dan formasi batu dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh para leluhur.

Sistem tabu tradisional inilah yang secara tidak langsung menjadi benteng konservasi ekologis terkuat di Sumba. Masyarakat dilarang keras menebang pohon sembarangan atau mencemari sumber air karena takut kualat.

  • Tips Praktis: Selalu jaga tata krama. Jangan sembarangan memasuki area yang ditandai dengan kain adat atau tumpukan batu tanpa meminta izin dari pemandu lokal Anda.

Panduan Praktis Menikmati Alam Sumba

Infrastruktur pariwisata di Sumba memang terus berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, namun jangan bayangkan kemewahan instan di setiap sudutnya. Perjalanan antar-destinasi sering kali memakan waktu berjam-jam melewati jalanan berkelok. Namun, justru di situlah letak petualangannya. Statistik pariwisata menunjukkan angka kunjungan yang stabil, menjadikannya destinasi yang masih bebas dari ancaman overtourism.

  • Insight Wisata: Sewalah mobil beserta pengemudi lokal. Selain lebih aman menavigasi medan jalan yang sepi dan panjang, obrolan dengan warga lokal akan memberikan wawasan mendalam yang tidak akan Anda temukan di buku panduan wisata mana pun.


Akhir kata, perjalanan ke pulau ini bukan sekadar pelarian dari rutinitas penat, melainkan sebuah ziarah untuk kembali terhubung dengan bumi yang murni. Mengambil waktu untuk Sumba: Menjelajahi savana purba dan Danau Kristal Weekuri adalah cara terbaik untuk menyadari bahwa keindahan sejati sering kali tersembunyi jauh dari peradaban yang bising.

Sudah siapkah Anda menukar bisingnya klakson kota dengan ringkikan kuda Sandalwood dan percikan air laguna toska? Kapan Anda berencana memesan tiket dan merasakan sendiri magisnya bumi Sumba?